Could He Be My True Love?
Awan hitam diselimuti halilintar yang menggelegar menghiasi perjalanan pulang Dariza. Dariza merupakan mahasiswi baru yang sedang mengikuti kegiatan ospek di kampusnya. Dariza seorang wanita yang ramah, santun dan pemalu. Kepribadiannya pun tertutup.
Dariza
begitu lelah mengikuti ospek di kampus. Namun, kelelahan Dariza akan segera
terbayarkan dengan kegiatan yang Ia inginkan sejak pertama ospek yaitu kegiatan
lintas alam. Kegiatan tersebut akan dilaksanakan pada esok hari tepatnya pada
hari Sabtu. Kegiatan tersebut sekaligus menjadi penutup kegiatan ospeknya.
Dariza
pun tidak sabar untuk menunggu hari esok. Malam harinya, Ia segera menyiapkan
barang-barang yang harus Ia bawa. Waktu menunjukkan pukul 20.00, waktunya Dariza
pergi ke pulau kapuk yang indah nan mempesona.
Mentari
terbit dari timur memancarkan sinarnya. Dariza bergegas untuk pergi ke kampus.
Tidak lupa, Ia menyempatkan diri untuk sarapan. Karena sarapan di pagi hari
sangatlah penting baginya. Setelah itu, Dariza mencium tangan kedua orang
tuanya untuk pamit.
Tepat
pukul 07.00, seluruh mahasiswa baru berkumpul di lapangan dan baris sesuai
dengan kelompoknya masing-masing untuk menandatangani kehadiran. Setiap kelompok
pasti ada pembimbing. Pembimbing kelompok Dariza adalah Kak Azriel. Dariza
jatuh cinta pada pandangan pertama. Hal itu sudah menjadi hal biasa dimana
mahasiswa baru jatuh cinta pada kakak tingkatnya sendiri. Menurutnya, Kak Azriel
merupakan seorang pria tampan nan baik hati. Banyak orang mengatakan jika Kak
Azriel ini selain tampan juga dirinya berprestasi dikampus dan sangat
menghormati serta menghargai wanita. Maka tidak heran jika banyak kaum hawa
yang banyak menebar pesona pada sosok Kak Azriel ini. Dan poin pentingnya
adalah “Dia Jomblo” haha. Mendapat informasi seperti itu, Dariza seperti
mendapat secercah pencerahan.
Kegiatan
lintas alam akan segera dimulai. Perjalanan yang ditempuh dalam kegitan
tersebut menggunakan rute persawahan. Sebelum berangkat, panitia menghimbau
kepada seluruh peserta untuk selalu berhati-hati saat melintasi rute tersebut.
“Kepada
seluruh peserta diharapkan untuk selalu berhati-hati ketika sedang melintasi
area persawahan. Karena di area tersebut baru saja dilanda hujan deras tadi
malam. Sehingga area persawahan menjadi licin dan becek”. Ujar panitia.
“Baik
Kak”. Jawab seluruh peserta serempak.
Kak
Azriel selaku pembimbing kelompok Dariza, segera mermeriksa anggota kelompoknya
dan perjalanan pun dimulai. Ternyata
benar saja areanya licin dan becek. Tiba-tiba, terdengar suara orang yang
terpeleset.
“Bbbrrruuugghh”.
Terdengar begitu keras.
Kak
Azriel pun langsung berlari ke sumber suara. Setelah dilihat, ternyata orang
yang terpeleset adalah Dariza. Kak Azriel langsung menghampiri Dariza dan membantunya
berdiri serta memastikan kondisinya baik-baik saja.
“Dariza,
apa ada bagian tubuh kamu yang terluka?” Tanya Kak Azriel khawatir.
“Gak
ada kok kak. Alhamdulillah Dariza baik-baik saja.” Jawab Aisyah tersenyum.
“Serius
nih? Coba Saya lihat kaki kamu.” Pinta Kak Azriel.
Dariza
langsung memperlihatkan kondisi kakinya kepada Kak Azriel agar Dia percaya
bahwa tidak ada bagian tubuh Dariza yang terluka.
“Syukurlah jika tidak ada yang terluka. Apa
kamu masih kuat untuk berjalan? Karena rutenya masih panjang. Sebaiknya kamu
istirahat saja di pos kesehatan agar kondisi kamu benar-benar membaik.” Saran
Kak Azriel.
“Dariza
masih kuat jalan kok kak. Lagian ini cuma kepeleset biasa ga ada yang terkilir
kok kak.” Timpal Dariza.
“oke
deh kalau memang kamu masih kuat berjalan. Yasudah ayo kita lanjutkan lagi
perjalnannya. Oh iya, nanti kalau kamu merasa ada bagian tubuh yang sakit,
jangan ragu bilang ke Saya ya?” Sahut Kak Alen tersenyum ramah.
“Siap
laksanakan, Kak Azriel.” Jawab Dariza penuh semangat.
Seketika
hati Dariza meledak bahagia, karena pria yang Ia sukai perhatian kepada
dirinya. Walaupun Ia tahu bahwa, Kak Azriel perhatian tidak hanya kepada
dirinya saja, namun kepada orang lainpun Kak Azriel sangat perhatian. Meskipun
begitu, tetap saja hati Dariza berbunga-bunga.
Seluruh
panitia juga peserta sangat menikmati perjalanan mereka. Karena selain cuaca
yang cerah, mereka juga melewati banyak pohon rindang di pinggir jalan serta
sungai mengalir. Selain itu, mereka disuguhkan dengan panorama hutan yang asri
dan luar biasa indahnya. Angin sepoi-sepoi juga menemani perjalanan mereka.
Mereka semua merasa sangat nyaman. Namun, lagi-lagi terdengar suara orang yang
terpeleset. Panitia pun berlarian menuju sumber suara termasuk Kak Azriel. Orang
yang terpeleset tidak lain dan tidak bukan adalah Dariza. Betapa malunya Dariza
menjadi pusat perhatian semua orang karena untuk yang kedua kalinya Ia
terpeleset. Dan Kak Azriel tak bosan-bosan untuk menolong Dariza dibantu oleh
anggota kelompok yang lain.
“Kali
ini, apa kamu baik-baik saja Dariza?” Tanya Kak Azriel dengan wajah yang begitu
khawatir.
“Kaki
Dariza sakit kak.” Rintih Dariza.
“Innalillahi.
Ada pos kesehatan didekat sini, apa kamu masih sanggup untuk berjalan? Tanya
Kak Azriel.
“Insya
allah Dariza masih kuat kak.” Jawab Dariza menguatkan dirinya.
“Emm
begini saja, untuk sementara sambil jalan perlahan menuju pos kesehatan kamu
pegang tangan kakak, supaya kamu tidak kepeleset lagi. Kalaupun nanti ada
tanda-tanda kamu bakal ke peleset lagi, setidaknya kakak bisa tahan kamu.”
Sahut Kak Alen tersenyum sambil mengulurkan tangannya kepada Dariza.
Mendengar
kata-kata itu, Dariza langsung terpana dan dirinya menjadi tenang. Entah apa
yang ada dipikirannya saat itu, sampai Ia melamun cukup lama dan membuat Kak
Azriel bingung.
“Aku harus bagaimana?
Apa aku harus menerima tawaran Kak Azriel untuk berpegangan tangan? Tapi, jika
aku menolak tawarannya tidak menutup kemungkinan aku bisa terpeleset dan luka
di kakiku akan bertambah parah. Apa aku harus menerima tawarannya?” Gumam Dariza.
Sebenarnya
Dariza belum pernah bersentuhan dengan pria manapun walaupun hanya sekedar
berjabat tangan. Maklumlah Dariza sosok wanita yang religius. Jadi, tidak heran
jika Dariza berpikir dua kali untuk menerima tawaran dari Kak Azriel. Jadi,
bisa dikatakan ini adalah genggaman pertamanya dengan seorang laki-laki.
“Dariza...
Dariza.” Kak Azriel berusaha menyadarkan Dariza dari lamunannya.
“Eh
iya kak?” Tanya Dariza tersentak.
“Kamu
ngelamunin apa sih? Ayo pegang tangan kakak! Kita udah ketinggalan rombongan
nih.” Sahut Kak Azriel.
Dengan
berat hati, Dariza pun menerima tawaran Kak Azriel. Dariza tak tahu dengan apa
yang Ia rasakan saat ini. Disatu sisi, Ia sangat bahagia karena bisa berdekatan
dengan sang pujaan hati. Namun disisi lain, Ia sangat takut akan terjadi
sesuatu apabila Ia bergenggaman tangan dengannya. Namun hal itu Ia lakukan demi
kelangsungan hidup kakinya yang terluka.
“Hah?
Engga ko kak hehe.” Jawab Dariza kebingungan.
“Yasudah,
ayo kita lanjutkan lagi perjalanannya.” Ajak Kak Azriel yang masih mengulurkan
tangannya kepada Dariza.
“Ayo
kak.” Jawab Dariza sambil meraih tangan Kak Azriel.
Sampailah
Dariza dan Kak Azriel di pos kesehatan. Kaki Dariza pun segera ditangani oleh
tim medis disana. Setelah memastikan kaki Dariza sudah ditangani dengan baik,
Kak Azriel bergegas melanjutkan perjalan tanpa Dariza. Karena Dariza harus
beristirahat di pos tersebut.
Tak
terasa kegiatan demi kegiatan telah berjalan lancar dan sesuai rencana. Ospek ditutup
dengan upacara, dimana upacara tersebut sekaligus meresmikan peserta menjadi mahasiswa baru di kampus tersebut.
Dariza
sangat bersyukur sekali. Sekarang Ia telah resmi menjadi mahasiswa baru di
kampus tersebut. Dariza mengikuti UKM badminton. Karena badminton merupakan
salah satu olahraga favoritnya.
Setelah
kegiatan ospek selesai, Dariza tidak melihat sosok Kak Azriel lagi. Entah
karena kampusnya yang terlalu luas atau memang Kak Azriel memiliki banyak
kesibukan di luar. Dariza sangat ingin mengetahui dimana keberadaan Kak Azriel.
Fyi, Dariza memiliki sahabat yang kepribadiannya berbanding terbalik dengannya
dan Dia adalah Audi. Audi merupakan sahabat sekaligus orang kepercayaannya
Dariza.
Entah
mengapa cuaca siang hari ini sangat lah panas yang membuat Dariza dan Audi
ingin menenggak segelas minuman dingin yang menyegarkan. Merekapun segera ke
kantin dan memesan dua gelas jus alpukat dengan ekstra es batu di dalamnya.
Ketika mereka sedang menikmati jus alpukat, datanglah kakak tingkat yang menghampiri
mereka. Ternyata dia adalah Kak Airin kenalannya Audi. Kami pun
berbincang-bincang dengannya. Ditengah perbincangan kita, tiba-tiba Kak Airin
menunjukkan database yang dimana database itu merupakan data mahasiswa yang
sedang magang.
Lalu
Dariza dan Audi melihat siapa saja mahasiswa yang sedang magang. Dan mataku
seolah sudah tahu apa yang ingin aku cari. Yaps nama Kak Azriel ada dalam
databse itu. Namun disana tidak dituliskan jelas dimana tempat magangnya.
Dairza terlalu malu untuk menanyakan itu kepada Kak Airin. Dan Audi melirikku
sesaat seolah-olah dia bisa membaca pikiranku. Tanpa basa-basi Ia langsung
menanyakan hal tersebut kepada Kak Airin.
“Emm
dari semua data magang mahasiswa ini, Apa Kak Airin tau mereka nih magangnya
dimana?” Tanya Audi dengan alibinya.
“Aku
engga tau secara keseluruhan, aku cuma tahu beberapa aja.” Jawab Kak Airin
datar.
“Emang
yang Kak Airin tahu siapa dan dimana aja mereka magang?” Tanya Audi penasaran.
“Kalau
Kak Rangga dia magang di Bogor, Kak Nisa di Yogyakarta, Kak Azriel di Bandung,
terus siapa lagi ya? Nanti deh aku kirim datanya ke kamu ya Di.” Jawab Kak
Airin.
Ketika
namanya disebut, mata Dariza seketika berbinar-binar dan merasa menemukan titik
terang.
“Engga
usah repot-repot kak, gapapa. Aku cuma penasaran aja kok hihi.” Tolak Audi.
Sebenarnya
sudah dari lama Dariza menyimpan nomor telepon Kak Azriel. Namun sampai hari
ini, Dariza belum berani untuk menghubungi Kak Azriel tanpa alasan. Dari
situlah Dariza berambisi untuk menjadi mahasiswi berprestasi seperti Kak Azriel
agar bisa magang ditempat Kak Azriel magang.
Dariza
berusaha semaksimal mungkin dan mengerahkan semua kemampuannya untuk menjadi
mahasiswi berprestasi. Dia selalu fokus memperhatikan dosen ketika mengajar.
Dan berusaha untuk aktif bertanya kepada dosen. Tiba akhirnya UAS. Dariza
sangat percaya diri dan bersemangat menjalani masa UAS. Sampai pada akhirnya
Dariza mendapatkan nilai yang kurang memuaskan menurutnya. Dariza sangat
terpukul dan kecewa. Namun Ia sadar, jika kecewa atau berlarut-larut dalam
kesedihan adalah hal yang sia-sia. Dariza pun berusaha bangkit dan kembali
menghadapi dunia nyatanya.
Ketika
Dariza sedang lelah dengan rutinitas kuliah dan hampir menyerah, Dariza selalu
teringat sosok Kak Azriel. Dan timbulah semangat didalam dirinya untuk terus
maju. Dariza tak lelah untuk mencari info tentang Kak Azriel.
<1
Tahun Kemudian...>
Hari
ini pun tiba, dimana hari ini adalah hari wisudanya Kak Azriel. Dariza senang
Kak Azriel lulus tepat waktu, namun Dia juga sedih karena tidak akan melihat Kak
Azriel lagi di kampus. Tak ingin membuang kesempatan, Dariza pun memberanikan
diri menghampiri Kak Azriel untuk memberikan ucapan selamat.
Kak
Azriel pun mengucapkan terima kasih dan mendoakan yang terbaik untuk Dariza.
Tidak lupa Kak Azriel menyambutnya dengan ramah serta senyum yang merekah.
Ingin sekali rasanya Dariza memeluknya.
Beberapa
minggu kemudian, ketua kelompok ospek Dariza dulu mengajak semua anggotanya
untuk bersilaturahim di tempat yang sudah ditentukan. Semua sepakat untuk
bertemu. Disana hadir pula Kak Azriel selaku pembimbing mereka saat itu.
Sekarang Kak Azriel sudah menjadi Arsitek professional dan sedang melanjutkan
pendidikannya ke jenjang S2. Mendengar kabar tersebut, Dariza sangat terkejut
dan membuatnya patah semangat. Karena jika dibandingkan dengan pencapaian Kak
Azriel saat ini, Dariza tidak ada apa-apanya.
Dariza
jadi berpikir ulang, apakah boleh Ia mendambakan Kak Azriel untuk menjadi
suaminya kelak? Apakah Dia layak dan sebanding dengan Kak Azriel? Ditengah
pikirannya yang kalut itu, Dariza tersentak dengan pertanyaan Kak Azriel.
“Dariza
apa kabar?” Tanya Kak Azriel dengan tatapan hangat.
“Alhamdulillah
Dariza baik kak, Kak Azriel apa kabar?” Tanya Dariza.
“Alhamdulillah
kabar Saya juga baik.” Jawab Kak Azriel
Ditengah
perbincangan, ada salah satu teman yang bertanya kepada Kak Azriel.
“Kak
Azriel, sekarang udah punya pasangan dong ya?” Tanya Ali penasaran
“Alhamdulillah
sampai saat ini Saya masih mencari pasangana. Barangkali Ali punya teman wanita
yang bisa dikenalkan kepada Saya haha.” Jawab Kak Azriel bercanda.
“Masa
sih Kak Azriel belum punya pasangan? Kalau orang yang disuka ada dong pasti?”
Tanya Ali lagi
“Ada
deh pokoknya.” Jawab Kak Azriel tertawa kecil.
Deg.
Entah itu benar atau tidak, tapi kenapa rasanya hati Dariza sangat tidak ingin
mendengar hal itu. Apakah sudah tidak ada harapan lagi untuknya? Air matanya
hampir jatuh mengenai tangannya. Sebelum hal itu terjadi, Dariza segera meminta
izin kepada yang lain untuk pergi ke toilet. Karena suasana hatinya sekarang
tidak karuan, setelah dari toilet Dariza pamit kepada semuanya untuk pulang
duluan. Dengan cepat Kak Azriel menawarkan diri untuk mengantarnya pulang.
“Dariza,
Rumah kamu dimana? Biar Saya antar kamu pulang.” Ajak Kak Azriel.
“Rumah
Dariza di sekitaran sini kak. Terima kasih atas tawarannya, tapi Dariza sudah
pesan ojol.” Tolak Dariza.
Dariza
pun segera meninggalkan tempat tersebut. Dan lekas pulang. Sesampainya dirumah,
dia langsung membereskan tas dan pakaian yang dikenakan. Dariza teringat jika Handphone-nya
ada didalam tas. Ketika dia sudah mengambil Handphone, Dia melihat ada
sepucuk surat berwarna hijau didalam tasnya.
Dia
pun segera membuka surat tersebut dengan penasaran. Dan Dariza pun membaca
surat dengan seksama.
Dear
Dariza,
Sudah
lama kita tidak bertemu. Saya sangat bersyukur kita bisa bertemu malam ini. Oh
iya, selamat yaa kamu sudah menjadi salah satu mahasiswi yang berprestasi. Kamu
hebat. Maaf Saya tidak bisa bicara langsung. Karena Saya merasa malu untuk
melakukannya :).
Apakah
kamu sudah memiliki pendamping? Jika belum, bolehkah Saya mengenalmu lebih
dalam Dariza? Mungkin saat ini kamu bertanya-tanya siapa Saya? Jika waktunya
sudah tepat, Saya akan menghubungimu segera Dariza.
Regards
Dariza
bertanya-tanya siapa yang memasukan surat ini. Apakah Kak Azriel pria yang aku
suka? Atau orang lain? Satu hal yang pasti, orang ini pasti ada di kelompok
ospeknya dulu. Jika benar surat ini dari Kak Azriel, maka Dariza akan sangat
bersyukur sekali. Tapi Apakah Dariza harus menunggu sosok misterius itu
menghubunginya? Dariza hanya bisa berharap bahwa surat itu dari Kak Azriel and
could he be my true love?
~ SELESAI ~