Wednesday, July 10, 2024

COULD HE BE MY TRUE LOVE?

 

Could He Be My True Love?

            Awan hitam diselimuti halilintar yang menggelegar menghiasi perjalanan pulang Dariza. Dariza merupakan mahasiswi baru yang sedang mengikuti kegiatan ospek di kampusnya. Dariza seorang wanita yang ramah, santun dan pemalu. Kepribadiannya pun tertutup.

Dariza begitu lelah mengikuti ospek di kampus. Namun, kelelahan Dariza akan segera terbayarkan dengan kegiatan yang Ia inginkan sejak pertama ospek yaitu kegiatan lintas alam. Kegiatan tersebut akan dilaksanakan pada esok hari tepatnya pada hari Sabtu. Kegiatan tersebut sekaligus menjadi penutup kegiatan ospeknya.

Dariza pun tidak sabar untuk menunggu hari esok. Malam harinya, Ia segera menyiapkan barang-barang yang harus Ia bawa. Waktu menunjukkan pukul 20.00, waktunya Dariza pergi ke pulau kapuk yang indah nan mempesona.

Mentari terbit dari timur memancarkan sinarnya. Dariza bergegas untuk pergi ke kampus. Tidak lupa, Ia menyempatkan diri untuk sarapan. Karena sarapan di pagi hari sangatlah penting baginya. Setelah itu, Dariza mencium tangan kedua orang tuanya untuk pamit.

Tepat pukul 07.00, seluruh mahasiswa baru berkumpul di lapangan dan baris sesuai dengan kelompoknya masing-masing untuk menandatangani kehadiran. Setiap kelompok pasti ada pembimbing. Pembimbing kelompok Dariza adalah Kak Azriel. Dariza jatuh cinta pada pandangan pertama. Hal itu sudah menjadi hal biasa dimana mahasiswa baru jatuh cinta pada kakak tingkatnya sendiri. Menurutnya, Kak Azriel merupakan seorang pria tampan nan baik hati. Banyak orang mengatakan jika Kak Azriel ini selain tampan juga dirinya berprestasi dikampus dan sangat menghormati serta menghargai wanita. Maka tidak heran jika banyak kaum hawa yang banyak menebar pesona pada sosok Kak Azriel ini. Dan poin pentingnya adalah “Dia Jomblo” haha. Mendapat informasi seperti itu, Dariza seperti mendapat secercah pencerahan.

Kegiatan lintas alam akan segera dimulai. Perjalanan yang ditempuh dalam kegitan tersebut menggunakan rute persawahan. Sebelum berangkat, panitia menghimbau kepada seluruh peserta untuk selalu berhati-hati saat melintasi rute tersebut.

“Kepada seluruh peserta diharapkan untuk selalu berhati-hati ketika sedang melintasi area persawahan. Karena di area tersebut baru saja dilanda hujan deras tadi malam. Sehingga area persawahan menjadi licin dan becek”. Ujar panitia.

“Baik Kak”. Jawab seluruh peserta serempak.

Kak Azriel selaku pembimbing kelompok Dariza, segera mermeriksa anggota kelompoknya dan perjalanan pun dimulai.  Ternyata benar saja areanya licin dan becek. Tiba-tiba, terdengar suara orang yang terpeleset.

“Bbbrrruuugghh”. Terdengar begitu keras.

Kak Azriel pun langsung berlari ke sumber suara. Setelah dilihat, ternyata orang yang terpeleset adalah Dariza. Kak Azriel langsung menghampiri Dariza dan membantunya berdiri serta memastikan kondisinya baik-baik saja.

“Dariza, apa ada bagian tubuh kamu yang terluka?” Tanya Kak Azriel khawatir.

“Gak ada kok kak. Alhamdulillah Dariza baik-baik saja.” Jawab Aisyah tersenyum.

“Serius nih? Coba Saya lihat kaki kamu.” Pinta Kak Azriel.

Dariza langsung memperlihatkan kondisi kakinya kepada Kak Azriel agar Dia percaya bahwa tidak ada bagian tubuh Dariza yang terluka.

 “Syukurlah jika tidak ada yang terluka. Apa kamu masih kuat untuk berjalan? Karena rutenya masih panjang. Sebaiknya kamu istirahat saja di pos kesehatan agar kondisi kamu benar-benar membaik.” Saran Kak Azriel.

“Dariza masih kuat jalan kok kak. Lagian ini cuma kepeleset biasa ga ada yang terkilir kok kak.” Timpal Dariza.

“oke deh kalau memang kamu masih kuat berjalan. Yasudah ayo kita lanjutkan lagi perjalnannya. Oh iya, nanti kalau kamu merasa ada bagian tubuh yang sakit, jangan ragu bilang ke Saya ya?” Sahut Kak Alen tersenyum ramah.

“Siap laksanakan, Kak Azriel.” Jawab Dariza penuh semangat.

Seketika hati Dariza meledak bahagia, karena pria yang Ia sukai perhatian kepada dirinya. Walaupun Ia tahu bahwa, Kak Azriel perhatian tidak hanya kepada dirinya saja, namun kepada orang lainpun Kak Azriel sangat perhatian. Meskipun begitu, tetap saja hati Dariza berbunga-bunga.

Seluruh panitia juga peserta sangat menikmati perjalanan mereka. Karena selain cuaca yang cerah, mereka juga melewati banyak pohon rindang di pinggir jalan serta sungai mengalir. Selain itu, mereka disuguhkan dengan panorama hutan yang asri dan luar biasa indahnya. Angin sepoi-sepoi juga menemani perjalanan mereka. Mereka semua merasa sangat nyaman. Namun, lagi-lagi terdengar suara orang yang terpeleset. Panitia pun berlarian menuju sumber suara termasuk Kak Azriel. Orang yang terpeleset tidak lain dan tidak bukan adalah Dariza. Betapa malunya Dariza menjadi pusat perhatian semua orang karena untuk yang kedua kalinya Ia terpeleset. Dan Kak Azriel tak bosan-bosan untuk menolong Dariza dibantu oleh anggota kelompok yang lain.

“Kali ini, apa kamu baik-baik saja Dariza?” Tanya Kak Azriel dengan wajah yang begitu khawatir.

“Kaki Dariza sakit kak.” Rintih Dariza.

“Innalillahi. Ada pos kesehatan didekat sini, apa kamu masih sanggup untuk berjalan? Tanya Kak Azriel.

“Insya allah Dariza masih kuat kak.” Jawab Dariza menguatkan dirinya.

“Emm begini saja, untuk sementara sambil jalan perlahan menuju pos kesehatan kamu pegang tangan kakak, supaya kamu tidak kepeleset lagi. Kalaupun nanti ada tanda-tanda kamu bakal ke peleset lagi, setidaknya kakak bisa tahan kamu.” Sahut Kak Alen tersenyum sambil mengulurkan tangannya kepada Dariza.

Mendengar kata-kata itu, Dariza langsung terpana dan dirinya menjadi tenang. Entah apa yang ada dipikirannya saat itu, sampai Ia melamun cukup lama dan membuat Kak Azriel bingung.

“Aku harus bagaimana? Apa aku harus menerima tawaran Kak Azriel untuk berpegangan tangan? Tapi, jika aku menolak tawarannya tidak menutup kemungkinan aku bisa terpeleset dan luka di kakiku akan bertambah parah. Apa aku harus menerima tawarannya?” Gumam Dariza.

Sebenarnya Dariza belum pernah bersentuhan dengan pria manapun walaupun hanya sekedar berjabat tangan. Maklumlah Dariza sosok wanita yang religius. Jadi, tidak heran jika Dariza berpikir dua kali untuk menerima tawaran dari Kak Azriel. Jadi, bisa dikatakan ini adalah genggaman pertamanya dengan seorang laki-laki.

“Dariza... Dariza.” Kak Azriel berusaha menyadarkan Dariza dari lamunannya.

“Eh iya kak?” Tanya Dariza tersentak.

“Kamu ngelamunin apa sih? Ayo pegang tangan kakak! Kita udah ketinggalan rombongan nih.” Sahut Kak Azriel.

Dengan berat hati, Dariza pun menerima tawaran Kak Azriel. Dariza tak tahu dengan apa yang Ia rasakan saat ini. Disatu sisi, Ia sangat bahagia karena bisa berdekatan dengan sang pujaan hati. Namun disisi lain, Ia sangat takut akan terjadi sesuatu apabila Ia bergenggaman tangan dengannya. Namun hal itu Ia lakukan demi kelangsungan hidup kakinya yang terluka.

“Hah? Engga ko kak hehe.” Jawab Dariza kebingungan.

“Yasudah, ayo kita lanjutkan lagi perjalanannya.” Ajak Kak Azriel yang masih mengulurkan tangannya kepada Dariza.

“Ayo kak.” Jawab Dariza sambil meraih tangan Kak Azriel.

Sampailah Dariza dan Kak Azriel di pos kesehatan. Kaki Dariza pun segera ditangani oleh tim medis disana. Setelah memastikan kaki Dariza sudah ditangani dengan baik, Kak Azriel bergegas melanjutkan perjalan tanpa Dariza. Karena Dariza harus beristirahat di pos tersebut.

Tak terasa kegiatan demi kegiatan telah berjalan lancar dan sesuai rencana. Ospek ditutup dengan upacara, dimana upacara tersebut sekaligus meresmikan peserta menjadi  mahasiswa baru di kampus tersebut.

Dariza sangat bersyukur sekali. Sekarang Ia telah resmi menjadi mahasiswa baru di kampus tersebut. Dariza mengikuti UKM badminton. Karena badminton merupakan salah satu olahraga favoritnya.

Setelah kegiatan ospek selesai, Dariza tidak melihat sosok Kak Azriel lagi. Entah karena kampusnya yang terlalu luas atau memang Kak Azriel memiliki banyak kesibukan di luar. Dariza sangat ingin mengetahui dimana keberadaan Kak Azriel. Fyi, Dariza memiliki sahabat yang kepribadiannya berbanding terbalik dengannya dan Dia adalah Audi. Audi merupakan sahabat sekaligus orang kepercayaannya Dariza.

Entah mengapa cuaca siang hari ini sangat lah panas yang membuat Dariza dan Audi ingin menenggak segelas minuman dingin yang menyegarkan. Merekapun segera ke kantin dan memesan dua gelas jus alpukat dengan ekstra es batu di dalamnya. Ketika mereka sedang menikmati jus alpukat, datanglah kakak tingkat yang menghampiri mereka. Ternyata dia adalah Kak Airin kenalannya Audi. Kami pun berbincang-bincang dengannya. Ditengah perbincangan kita, tiba-tiba Kak Airin menunjukkan database yang dimana database itu merupakan data mahasiswa yang sedang magang.

Lalu Dariza dan Audi melihat siapa saja mahasiswa yang sedang magang. Dan mataku seolah sudah tahu apa yang ingin aku cari. Yaps nama Kak Azriel ada dalam databse itu. Namun disana tidak dituliskan jelas dimana tempat magangnya. Dairza terlalu malu untuk menanyakan itu kepada Kak Airin. Dan Audi melirikku sesaat seolah-olah dia bisa membaca pikiranku. Tanpa basa-basi Ia langsung menanyakan hal tersebut kepada Kak Airin.

“Emm dari semua data magang mahasiswa ini, Apa Kak Airin tau mereka nih magangnya dimana?” Tanya Audi dengan alibinya.

“Aku engga tau secara keseluruhan, aku cuma tahu beberapa aja.” Jawab Kak Airin datar.

“Emang yang Kak Airin tahu siapa dan dimana aja mereka magang?” Tanya Audi penasaran.

“Kalau Kak Rangga dia magang di Bogor, Kak Nisa di Yogyakarta, Kak Azriel di Bandung, terus siapa lagi ya? Nanti deh aku kirim datanya ke kamu ya Di.” Jawab Kak Airin.

Ketika namanya disebut, mata Dariza seketika berbinar-binar dan merasa menemukan titik terang.

“Engga usah repot-repot kak, gapapa. Aku cuma penasaran aja kok hihi.” Tolak Audi.

Sebenarnya sudah dari lama Dariza menyimpan nomor telepon Kak Azriel. Namun sampai hari ini, Dariza belum berani untuk menghubungi Kak Azriel tanpa alasan. Dari situlah Dariza berambisi untuk menjadi mahasiswi berprestasi seperti Kak Azriel agar bisa magang ditempat Kak Azriel magang.

Dariza berusaha semaksimal mungkin dan mengerahkan semua kemampuannya untuk menjadi mahasiswi berprestasi. Dia selalu fokus memperhatikan dosen ketika mengajar. Dan berusaha untuk aktif bertanya kepada dosen. Tiba akhirnya UAS. Dariza sangat percaya diri dan bersemangat menjalani masa UAS. Sampai pada akhirnya Dariza mendapatkan nilai yang kurang memuaskan menurutnya. Dariza sangat terpukul dan kecewa. Namun Ia sadar, jika kecewa atau berlarut-larut dalam kesedihan adalah hal yang sia-sia. Dariza pun berusaha bangkit dan kembali menghadapi dunia nyatanya.

Ketika Dariza sedang lelah dengan rutinitas kuliah dan hampir menyerah, Dariza selalu teringat sosok Kak Azriel. Dan timbulah semangat didalam dirinya untuk terus maju. Dariza tak lelah untuk mencari info tentang Kak Azriel.

<1 Tahun Kemudian...>

Hari ini pun tiba, dimana hari ini adalah hari wisudanya Kak Azriel. Dariza senang Kak Azriel lulus tepat waktu, namun Dia juga sedih karena tidak akan melihat Kak Azriel lagi di kampus. Tak ingin membuang kesempatan, Dariza pun memberanikan diri menghampiri Kak Azriel untuk memberikan ucapan selamat.

Kak Azriel pun mengucapkan terima kasih dan mendoakan yang terbaik untuk Dariza. Tidak lupa Kak Azriel menyambutnya dengan ramah serta senyum yang merekah. Ingin sekali rasanya Dariza memeluknya.

Beberapa minggu kemudian, ketua kelompok ospek Dariza dulu mengajak semua anggotanya untuk bersilaturahim di tempat yang sudah ditentukan. Semua sepakat untuk bertemu. Disana hadir pula Kak Azriel selaku pembimbing mereka saat itu. Sekarang Kak Azriel sudah menjadi Arsitek professional dan sedang melanjutkan pendidikannya ke jenjang S2. Mendengar kabar tersebut, Dariza sangat terkejut dan membuatnya patah semangat. Karena jika dibandingkan dengan pencapaian Kak Azriel saat ini, Dariza tidak ada apa-apanya.

Dariza jadi berpikir ulang, apakah boleh Ia mendambakan Kak Azriel untuk menjadi suaminya kelak? Apakah Dia layak dan sebanding dengan Kak Azriel? Ditengah pikirannya yang kalut itu, Dariza tersentak dengan pertanyaan Kak Azriel.

“Dariza apa kabar?” Tanya Kak Azriel dengan tatapan hangat.

“Alhamdulillah Dariza baik kak, Kak Azriel apa kabar?” Tanya Dariza.

“Alhamdulillah kabar Saya juga baik.” Jawab Kak Azriel

Ditengah perbincangan, ada salah satu teman yang bertanya kepada Kak Azriel.

“Kak Azriel, sekarang udah punya pasangan dong ya?” Tanya Ali penasaran

“Alhamdulillah sampai saat ini Saya masih mencari pasangana. Barangkali Ali punya teman wanita yang bisa dikenalkan kepada Saya haha.” Jawab Kak Azriel bercanda.

“Masa sih Kak Azriel belum punya pasangan? Kalau orang yang disuka ada dong pasti?” Tanya Ali lagi

“Ada deh pokoknya.” Jawab Kak Azriel tertawa kecil.

Deg. Entah itu benar atau tidak, tapi kenapa rasanya hati Dariza sangat tidak ingin mendengar hal itu. Apakah sudah tidak ada harapan lagi untuknya? Air matanya hampir jatuh mengenai tangannya. Sebelum hal itu terjadi, Dariza segera meminta izin kepada yang lain untuk pergi ke toilet. Karena suasana hatinya sekarang tidak karuan, setelah dari toilet Dariza pamit kepada semuanya untuk pulang duluan. Dengan cepat Kak Azriel menawarkan diri untuk mengantarnya pulang.

“Dariza, Rumah kamu dimana? Biar Saya antar kamu pulang.” Ajak Kak Azriel.

“Rumah Dariza di sekitaran sini kak. Terima kasih atas tawarannya, tapi Dariza sudah pesan ojol.” Tolak Dariza.

Dariza pun segera meninggalkan tempat tersebut. Dan lekas pulang. Sesampainya dirumah, dia langsung membereskan tas dan pakaian yang dikenakan. Dariza teringat jika Handphone-nya ada didalam tas. Ketika dia sudah mengambil Handphone, Dia melihat ada sepucuk surat berwarna hijau didalam tasnya.

Dia pun segera membuka surat tersebut dengan penasaran. Dan Dariza pun membaca surat dengan seksama.

 

Dear Dariza,

Sudah lama kita tidak bertemu. Saya sangat bersyukur kita bisa bertemu malam ini. Oh iya, selamat yaa kamu sudah menjadi salah satu mahasiswi yang berprestasi. Kamu hebat. Maaf Saya tidak bisa bicara langsung. Karena Saya merasa malu untuk melakukannya :).

Apakah kamu sudah memiliki pendamping? Jika belum, bolehkah Saya mengenalmu lebih dalam Dariza? Mungkin saat ini kamu bertanya-tanya siapa Saya? Jika waktunya sudah tepat, Saya akan menghubungimu segera Dariza.

Regards

 

Dariza bertanya-tanya siapa yang memasukan surat ini. Apakah Kak Azriel pria yang aku suka? Atau orang lain? Satu hal yang pasti, orang ini pasti ada di kelompok ospeknya dulu. Jika benar surat ini dari Kak Azriel, maka Dariza akan sangat bersyukur sekali. Tapi Apakah Dariza harus menunggu sosok misterius itu menghubunginya? Dariza hanya bisa berharap bahwa surat itu dari Kak Azriel and could he be my true love?

 

~ SELESAI ~

Tuesday, July 9, 2024

SENIOR

 Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh 😊

Semoga siapapun yang lagi baca blog aku dalam keadaan sehat dan diluaskan rezekinya, aamiiin.

hello everyone I'm Wulan. Glad to see you.

Hari ini aku pengen sharing tentang cerpen karya aku. Untuk temen-temen semua khususnya yang jago soal cepren, boleh banget ya kasih komentarnya hihi maaciw


SENIOR 

Haii semuanya kenalin nih namaku Adzkia panggil saja aku Kia. Usiaku baru 12 tahun dan tahun ini aku sudah menginjak kelas 7 SMP. Yaps kelas 7 alias junior. Aku bersyukur sekali bisa masuk ke SMP favorit di daerahku tinggal. Sebelum menjadi siswa resmi di SMP tersebut, aku harus mengikuti MPLS terlebih dahulu. MPLS merupakan salah satu hal yang aku benci, karena apa? Apa kalian bisa tebak? Yes. Dimana para ”senior” akan memperlakukan kami seenaknya dan pasti memaksa kami untuk melakukan apa yang mereka mau. MPLS akan dilaksanakan selama 7 hari. Ahh melelahkan sekali.

Banyak sekali pertanyaan yang muncul di benakku. Seperti untuk apa diadakan MPLS? Apakah benar untuk memperkenalkan kami dengan lingkungan sekolah? Lantas jika memang MPLS ini bertujuan untuk memperkenalkan dengan lingkunga sekolah, maka untuk apa kami harus membawa makanan dengan istilah yang aneh? Apakah makanan itu untuk juara lomba? Jika iya, apkaah sekolah ini semua miskin? Tidak adakah anggaran untuk hadiah? Jika memang tidak ada, mengapa harus memaksakan ada hadiah untuk perlombaan? Kan bisa diganti dengan tour keliling sekolah, ataupun membuat kegiatan yang lebih bermanfaat dibanding lomba? Ingin sekali aku tanyakan kepada seniorku, tapi aku paham itu bukan kapasitasnya. Lalu pertanyaan terakhir, kenapa sih para senior rese tuh selalu ada drama ngebentak-bentak gitu? Faedahnya buat siswa apa? Biar disiplin? Emang engga ada cara lain selain ngebentak? Ngebentak siswa tuh biar keliatan keren? Halah KAMPUNGAN. Dan yang paling aku benci adalah senior yang “so senior”. You know lah pasti ada aja senior yang suka caper pengen famous dikalangan juniornya. Buat apa sih? GAK PENTING. Untuk kegiatan MPLS ini mau tidak mau, aku harus mengikuti kegiatan menyebalkan itu. Argh shit.

Fyi, aku tuh orangnya paling enggak mau diatur apalagi sama sesama siswa termasuk senior. Selain itu aku memiliki rasa keingin tahuan yang tinggi. Aku akan terus bertanya sampai hal palingkecil sekalipun sampai aku puas dengan jawaban tersebut.

Hari yang tak diinginkan pun tiba, ini adalah hari pertama MPLS. Akupun berangkat ke sekolah dengan tidak bersemangat. Sesampainya di sekolah, ternyata dugaan aku kemarin-kemarin salah besar. Ternyata senior-senior disini tidaklah seperti apa yang aku bayangkan. Senior di sekolah ini sangatlah ramah dan melayani. Tidak ada istilah “dibentak-bentak”, senior disini sangat menyesuaikan dengan juniornya. Selain itu, seniornya sangat asik dan membuat hari-hari MPLS ini sangat menyenangkan.

Semua junior dikumpulkan di lapangan. Kami semua diberitahukan ada pembagian gugus kelompok. Terbagi menjadi 9 gugus dan masing-masing gugusnya terdapat 36 siswa dengan 8 mentor pendamping. Aku masuk ke dalam gugus 7. Mentor pendampingku adalah Gemilang, Adam, Ali, Fataya, Rinda, Fajar, Hana, Ani.

Dari semua mentorku, Kak Adam yang paling tampan dengan memiliki lesung pipi dan bulu mata lentik melengkapi ketampanannya. Namun ada yang mencuri perhatianku. Perhatianku tertuju pada Kak Ali. Dia memang tidak setampan Kak Adam, kulitnya yang sawo matang membuatku merasa Dia unik. Setiap harinya aku selalu ingin tahu aktivitasnya. Bahkan setelah MPLS selesai, aku tetap mencari tahu segala hal tentangnya. Tidak ada kata bosan untuku mencari tahu tentangnya.

Dari informasi yang selama ini aku dapatkan, Kak Ali merupakan salah satu murid akselerasi yang pastinya mempunyai kecerdasan yang istimewa. Selain itu selama masa MPLS Dia selalu terlihat tenang dan lebih banyak menyimak teman-temannya yang lain. Ituah yang membuat aku semakin penasaran dibuatnya.

Di sekolahku ada program solat dhuha dimana kami diberikan waktu 30 menit untuk melakukan solat dhuha sebelum memulai kegiatan belajar mengajar. Program ini bersifat tidak memaksa. Aku tentu sangat bersyukur dengan adanya program ini. Semoga aku bisa istiqomah untuk melaksanakan solat sunah dhuha. Aku juga sangat bersyukur ternyata Dia juga rutin melakukannya. Menurut teman-teman sekelasnya, Kak Ali memang pribadi yang religius dan sangat peka dengan lingkungan sekitar. Dan aku belum mendengar Dia dekat dengan wanita. Berarti kan Dia jomblo kan ya? hahaha

Setelah aku tahu jika Dia adalah sosok yang religius, entah ada angin apa rasanya aku juga ingin menjadi sosok yang religius pula. Aku mulai membaca buku tentang agama. Memperdalam apa yang sudah aku pelajari bahkan sampai bertanya kepada ustadzahku mengenai hal yang memang aku belum paham.

Lambat laun satu persatu dalam diriku mulai berubah. Dan tujuannya pun sudah bukan karena Kak Ali lagi tapi memang ini semua sudah menjadi perintah-Nya yang harus aku lakukan sebagai hamba. Aku sangat bersyukur Allah mempertemukan aku dengan Kak Ali. Mungkin ini salah satu cara-Nya agar menyadarkanku dari semua dosa-dosa yang sudah aku lakukan.

Namun aku hanya bisa melihat Kak Ali hanya satu tahun saja. Karena Dia sudah harus melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Darisitu aku memang sedih karena salah satu yang menjadi semangatku akan pergi. Namun bukankah life must go on? Semenjak Kak Ali sudah lulus SMP, aku masih mencari tahu dimana Dia bersekolah sekarang. Alhamdulillah aku mendengar bahwa Kak Ali menjadi ketua osis di sekolahnya.

Tak terasa waktu terus berjalan tanpa henti. Sekarang aku sedang mengerjar S-1 ku. Wahh sudah lama sekali bukan? Sampai sekarang tepatnya sudah 12 tahun aku masih mengagumi sosoknya. Aku tidak berharap bisa bersanding dengannya ataupun berharap Dia bisa tahu dan menyukaiku. Aku hanya bisa mendoakan kebahagiaannya untuknya. Aku ingin menyampaikan kepada Kak Ali bahwa aku sangat bersyukur dan beruntung bisa mengenalnya walaupun hanya sebentar. Aku sangat berterima kasih karena kepribadiannya bisa mengubah hidupku ke arah yang jauh lebih baik. Terima kasih Kak Ali sukses selalu. Kak Ali, I want you to know that you’re my inspiration for my life.

Monday, July 8, 2024

WHO ARE YOU?

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Semoga siapapun yang lagi baca blog aku dalam keadaan sehat dan diluaskan rezekinya, aamiiin.

hello everyone I'm Wulan. Glad to see you.

Hari ini aku pengen sharing tentang cerpen karya aku. Untuk temen-temen semua khususnya yang jago soal cepren, boleh banget ya kasih komentarnya hihi maaciw


WHO ARE YOU?

Namaku Bella. Aku merupakan salah seorang peserta didik baru di salah satu SMK Swasta di dekat rumahku. MOPD telah berlalu sekitar seminggu yang lalu. Kini saatnya aku harus beradaptasi dengan lingkungan baru, sekolah baru, kelas baru, teman baru, dan suasana yang baru. Kegiatan belajar mengajarpun telah dimulai.

            Satu bulan kemudian, disekolahku telah dibuka pendaftaran anggota OSIS yang baru. Aku segera mendaftarkan diriku ke panitia. Setelah di tes dan menunggu beberapa hari, akhrinya nama aku pun terpampang di mading sebagai anggota OSIS yang baru. Aku sangat bersyukur berhasil menjadi anggota OSIS.

            Seluruh pengurus OSIS selalu kumpul seminggu sekali. Di depan ruang OSIS ada perpustakaan. Aku selalu melewati dan menengok secara sepintas perpustakaan saat ke ruang OSIS. Setiap aku kumpul OSIS, aku selalu melihat kakak kelas laki-laki yang selalu ada di perpustakaan tersebut. Tanpa aku sadari, ternyata aku selalu memerhatikannya dalam diam. Saat aku menatapnya, Dia melihat ke arahku. Karena aku malu, jadi aku tundukkan pandanganku dan berjalan menuju ruang OSIS. Lama kelamaan, sepertinya aku mempunyai perasaan kepadanya. Karena selain Dia selalu membaca buku, Dia juga selalu membantu temannya.

            Beberapa bulan kemudian, OSIS mengadakan sebuah acara disekolah tepatnya di ruangan yang besar. Disana aku bertugas mengamankan dan menertibkan siswa-siswi sepanjang acara agar menghasilkan suasana yang kondusif. Karena tugasku sebagai keamanan, maka posisiku berada paling belakang, agar aku bisa melihat orang-orang yang kiranya akan membuat suasana menjadi gaduh dan tak kondusif.

Tanpa kusadari, ternyata kakak kelas itu berdiri tepat disampingku. Aku terkejut dan perasaanku semakin berdebar-debar. Rasanya aku ingin berpindah posisi. Tapi kondisi tidak memungkinkan aku untuk berpindah posisi karena ruangan sangat padat oleh siswa-siswi. Mau tidak mau aku harus diam di posisiku saat ini. Beberapa menit kemudian, kakak kelas itu bertanya kepadaku tentang acara yang sedang berlangsung. Akupun menjawabnya dengan jelas dan sedetail mungkin. Walaupun aku menjawabnya sedikit gugup. Setelah mendengar jawabanku, kakak kelas itu tersenyum kepadaku. Oh my god, senyumannya manis sekali. Aku jadi tersipu malu olehnya.

Dari situlah rasa cintaku padanya bertambah. Setiap hari selalu bertambah. Setelah acara itu, setiap kali aku berpapasan dengannya Dia selalu saja menatapku agak lama. Karena aku tidak tahan dengan tatapannya itu, aku langsung menunduk dan berjalan cepat. Karena kalau aku membalas tatapannya balik, aku takut salah tingkah dan membuat kakak itu ilfil kepadaku.

Aku selalu penasaran dan ingin tahu lebih dalam tentang kakak kelas itu. Setelah ditelusuri ternyata kakak kelas itu kelas 12. Aku mengetahuinya karena secara tidak sengaja waktu pagi aku melihat kakak kelas itu sedang menggendong tas dan masuk ke kelas 12. Belum puas sampai disitu, aku terus mencarinya sampai di sosial media. Aku berharap aku bisa menemukan akunnya di sosial media. Tidak butuh waktu lama, akhirnya aku menemukan akun Facebooknya. Sekarang aku tahu namanya ternyata nama kakak kelas yang aku sukai itu bernama Fariz. Aku senang sekali. Tanpa berpikir panjang, aku langsung meng-add akunnya. Mudah-mudahan saja akun Facebookku dikonfirmasi olehnya. Beberapa hari kemudian, aku membuka akun Facebookku. Aku langsung klik pemberitahuan dan ternyata Dia mengonfirmasi Facebookku. Betapa bahagianya aku, walaupun hanya dikonfirmasi saja aku sangat bahagia.

Anehnya setiap kali aku memposting sebuah status di sosmed, Dia selalu memberi like kepada postinganku. Aku selalu berpikir apakah Dia tahu aku ini siapa atau memang Dia suka ngelike status orang lain, apa aku nya yang kegeeran? Sepertinya aku yang kegeeran. Tapi biarlah yang penting hatiku senang. Karena kita selalu berpapasan, kakak itu mulai senyum kepadaku. Akupun membalas senyumannya. Walaupun kami melakukannya dengan malu-malu. Jantungku berdetak semakin kencang. Pipiku memerah setelahnya.

Waktu terus berjalan dan kami pun saling menyapa satu sama lain, walaupun masih ada rasa malu. Dari saling menyapa akhirnya berpindah ke obrolan di sosmed. Disana kami membicarakan banyak hal. Dari mulai menanyakan kelas, sekolah, cita-cita sampai masalah pribadi kita bicarakan. Sekarang kami tidak malu lagi untuk saling menyapa dan berbagi tawa.

Tak terasa sudah satu tahun kita menjalin hubungan pertemanan. Suatu hari kak Fariz mengajakku ke sebuah festival yang lokasinya tidak jauh dari sekolah. Akupun menerima ajakan darinya. Kami sangat menikmati festival tersebut. Kami tertawa bersama, bermain bersama, dan melakukan semuanya berdua. Hariku semakin berwarna dibuatnya. Lalu kak Fariz izin mau ke toilet dulu. Akupun menunggunya dibazar. Tak lama, Kak Fariz membelikanku sebuah boneka beruang kesukaanku. Anehnya didalam saku boneka tersebut ada sepucuk surat. Aku menoleh ke Kak Fariz dan Kak Fariz malah tersenyum kepadaku. Aku segera membuka dan membaca surat tersebut.

Isi surat itu begitu romantis dan akhir surat ada tulisan,”maukah kau menjadi kekasihku?”. Aku sangat terkejut dan bahagia. Setelah aku membaca surat itu aku langsung menatap wajah Kak Fariz dan Dia berkata,”maukah kau menjadi kekasihku?”. Sebenarnya itu yang aku inginkan selama ini yaitu menjalin asmara dengan kakak kelas yang aku sukai. Tanpa berpikir panjang aku menjawab ‘mau’ dan akhirnya aku menjadi kekasih Kak Fariz. Aku berharap semoga hubungan ini akan terus berlanjut ke jenjang lebih serius.

 

SELESAI



COULD HE BE MY TRUE LOVE?

  Could He Be My True Love?              Awan hitam diselimuti halilintar yang menggelegar menghiasi perjalanan pulang Dariza. Dariza meru...