Wednesday, July 10, 2024

COULD HE BE MY TRUE LOVE?

 

Could He Be My True Love?

            Awan hitam diselimuti halilintar yang menggelegar menghiasi perjalanan pulang Dariza. Dariza merupakan mahasiswi baru yang sedang mengikuti kegiatan ospek di kampusnya. Dariza seorang wanita yang ramah, santun dan pemalu. Kepribadiannya pun tertutup.

Dariza begitu lelah mengikuti ospek di kampus. Namun, kelelahan Dariza akan segera terbayarkan dengan kegiatan yang Ia inginkan sejak pertama ospek yaitu kegiatan lintas alam. Kegiatan tersebut akan dilaksanakan pada esok hari tepatnya pada hari Sabtu. Kegiatan tersebut sekaligus menjadi penutup kegiatan ospeknya.

Dariza pun tidak sabar untuk menunggu hari esok. Malam harinya, Ia segera menyiapkan barang-barang yang harus Ia bawa. Waktu menunjukkan pukul 20.00, waktunya Dariza pergi ke pulau kapuk yang indah nan mempesona.

Mentari terbit dari timur memancarkan sinarnya. Dariza bergegas untuk pergi ke kampus. Tidak lupa, Ia menyempatkan diri untuk sarapan. Karena sarapan di pagi hari sangatlah penting baginya. Setelah itu, Dariza mencium tangan kedua orang tuanya untuk pamit.

Tepat pukul 07.00, seluruh mahasiswa baru berkumpul di lapangan dan baris sesuai dengan kelompoknya masing-masing untuk menandatangani kehadiran. Setiap kelompok pasti ada pembimbing. Pembimbing kelompok Dariza adalah Kak Azriel. Dariza jatuh cinta pada pandangan pertama. Hal itu sudah menjadi hal biasa dimana mahasiswa baru jatuh cinta pada kakak tingkatnya sendiri. Menurutnya, Kak Azriel merupakan seorang pria tampan nan baik hati. Banyak orang mengatakan jika Kak Azriel ini selain tampan juga dirinya berprestasi dikampus dan sangat menghormati serta menghargai wanita. Maka tidak heran jika banyak kaum hawa yang banyak menebar pesona pada sosok Kak Azriel ini. Dan poin pentingnya adalah “Dia Jomblo” haha. Mendapat informasi seperti itu, Dariza seperti mendapat secercah pencerahan.

Kegiatan lintas alam akan segera dimulai. Perjalanan yang ditempuh dalam kegitan tersebut menggunakan rute persawahan. Sebelum berangkat, panitia menghimbau kepada seluruh peserta untuk selalu berhati-hati saat melintasi rute tersebut.

“Kepada seluruh peserta diharapkan untuk selalu berhati-hati ketika sedang melintasi area persawahan. Karena di area tersebut baru saja dilanda hujan deras tadi malam. Sehingga area persawahan menjadi licin dan becek”. Ujar panitia.

“Baik Kak”. Jawab seluruh peserta serempak.

Kak Azriel selaku pembimbing kelompok Dariza, segera mermeriksa anggota kelompoknya dan perjalanan pun dimulai.  Ternyata benar saja areanya licin dan becek. Tiba-tiba, terdengar suara orang yang terpeleset.

“Bbbrrruuugghh”. Terdengar begitu keras.

Kak Azriel pun langsung berlari ke sumber suara. Setelah dilihat, ternyata orang yang terpeleset adalah Dariza. Kak Azriel langsung menghampiri Dariza dan membantunya berdiri serta memastikan kondisinya baik-baik saja.

“Dariza, apa ada bagian tubuh kamu yang terluka?” Tanya Kak Azriel khawatir.

“Gak ada kok kak. Alhamdulillah Dariza baik-baik saja.” Jawab Aisyah tersenyum.

“Serius nih? Coba Saya lihat kaki kamu.” Pinta Kak Azriel.

Dariza langsung memperlihatkan kondisi kakinya kepada Kak Azriel agar Dia percaya bahwa tidak ada bagian tubuh Dariza yang terluka.

 “Syukurlah jika tidak ada yang terluka. Apa kamu masih kuat untuk berjalan? Karena rutenya masih panjang. Sebaiknya kamu istirahat saja di pos kesehatan agar kondisi kamu benar-benar membaik.” Saran Kak Azriel.

“Dariza masih kuat jalan kok kak. Lagian ini cuma kepeleset biasa ga ada yang terkilir kok kak.” Timpal Dariza.

“oke deh kalau memang kamu masih kuat berjalan. Yasudah ayo kita lanjutkan lagi perjalnannya. Oh iya, nanti kalau kamu merasa ada bagian tubuh yang sakit, jangan ragu bilang ke Saya ya?” Sahut Kak Alen tersenyum ramah.

“Siap laksanakan, Kak Azriel.” Jawab Dariza penuh semangat.

Seketika hati Dariza meledak bahagia, karena pria yang Ia sukai perhatian kepada dirinya. Walaupun Ia tahu bahwa, Kak Azriel perhatian tidak hanya kepada dirinya saja, namun kepada orang lainpun Kak Azriel sangat perhatian. Meskipun begitu, tetap saja hati Dariza berbunga-bunga.

Seluruh panitia juga peserta sangat menikmati perjalanan mereka. Karena selain cuaca yang cerah, mereka juga melewati banyak pohon rindang di pinggir jalan serta sungai mengalir. Selain itu, mereka disuguhkan dengan panorama hutan yang asri dan luar biasa indahnya. Angin sepoi-sepoi juga menemani perjalanan mereka. Mereka semua merasa sangat nyaman. Namun, lagi-lagi terdengar suara orang yang terpeleset. Panitia pun berlarian menuju sumber suara termasuk Kak Azriel. Orang yang terpeleset tidak lain dan tidak bukan adalah Dariza. Betapa malunya Dariza menjadi pusat perhatian semua orang karena untuk yang kedua kalinya Ia terpeleset. Dan Kak Azriel tak bosan-bosan untuk menolong Dariza dibantu oleh anggota kelompok yang lain.

“Kali ini, apa kamu baik-baik saja Dariza?” Tanya Kak Azriel dengan wajah yang begitu khawatir.

“Kaki Dariza sakit kak.” Rintih Dariza.

“Innalillahi. Ada pos kesehatan didekat sini, apa kamu masih sanggup untuk berjalan? Tanya Kak Azriel.

“Insya allah Dariza masih kuat kak.” Jawab Dariza menguatkan dirinya.

“Emm begini saja, untuk sementara sambil jalan perlahan menuju pos kesehatan kamu pegang tangan kakak, supaya kamu tidak kepeleset lagi. Kalaupun nanti ada tanda-tanda kamu bakal ke peleset lagi, setidaknya kakak bisa tahan kamu.” Sahut Kak Alen tersenyum sambil mengulurkan tangannya kepada Dariza.

Mendengar kata-kata itu, Dariza langsung terpana dan dirinya menjadi tenang. Entah apa yang ada dipikirannya saat itu, sampai Ia melamun cukup lama dan membuat Kak Azriel bingung.

“Aku harus bagaimana? Apa aku harus menerima tawaran Kak Azriel untuk berpegangan tangan? Tapi, jika aku menolak tawarannya tidak menutup kemungkinan aku bisa terpeleset dan luka di kakiku akan bertambah parah. Apa aku harus menerima tawarannya?” Gumam Dariza.

Sebenarnya Dariza belum pernah bersentuhan dengan pria manapun walaupun hanya sekedar berjabat tangan. Maklumlah Dariza sosok wanita yang religius. Jadi, tidak heran jika Dariza berpikir dua kali untuk menerima tawaran dari Kak Azriel. Jadi, bisa dikatakan ini adalah genggaman pertamanya dengan seorang laki-laki.

“Dariza... Dariza.” Kak Azriel berusaha menyadarkan Dariza dari lamunannya.

“Eh iya kak?” Tanya Dariza tersentak.

“Kamu ngelamunin apa sih? Ayo pegang tangan kakak! Kita udah ketinggalan rombongan nih.” Sahut Kak Azriel.

Dengan berat hati, Dariza pun menerima tawaran Kak Azriel. Dariza tak tahu dengan apa yang Ia rasakan saat ini. Disatu sisi, Ia sangat bahagia karena bisa berdekatan dengan sang pujaan hati. Namun disisi lain, Ia sangat takut akan terjadi sesuatu apabila Ia bergenggaman tangan dengannya. Namun hal itu Ia lakukan demi kelangsungan hidup kakinya yang terluka.

“Hah? Engga ko kak hehe.” Jawab Dariza kebingungan.

“Yasudah, ayo kita lanjutkan lagi perjalanannya.” Ajak Kak Azriel yang masih mengulurkan tangannya kepada Dariza.

“Ayo kak.” Jawab Dariza sambil meraih tangan Kak Azriel.

Sampailah Dariza dan Kak Azriel di pos kesehatan. Kaki Dariza pun segera ditangani oleh tim medis disana. Setelah memastikan kaki Dariza sudah ditangani dengan baik, Kak Azriel bergegas melanjutkan perjalan tanpa Dariza. Karena Dariza harus beristirahat di pos tersebut.

Tak terasa kegiatan demi kegiatan telah berjalan lancar dan sesuai rencana. Ospek ditutup dengan upacara, dimana upacara tersebut sekaligus meresmikan peserta menjadi  mahasiswa baru di kampus tersebut.

Dariza sangat bersyukur sekali. Sekarang Ia telah resmi menjadi mahasiswa baru di kampus tersebut. Dariza mengikuti UKM badminton. Karena badminton merupakan salah satu olahraga favoritnya.

Setelah kegiatan ospek selesai, Dariza tidak melihat sosok Kak Azriel lagi. Entah karena kampusnya yang terlalu luas atau memang Kak Azriel memiliki banyak kesibukan di luar. Dariza sangat ingin mengetahui dimana keberadaan Kak Azriel. Fyi, Dariza memiliki sahabat yang kepribadiannya berbanding terbalik dengannya dan Dia adalah Audi. Audi merupakan sahabat sekaligus orang kepercayaannya Dariza.

Entah mengapa cuaca siang hari ini sangat lah panas yang membuat Dariza dan Audi ingin menenggak segelas minuman dingin yang menyegarkan. Merekapun segera ke kantin dan memesan dua gelas jus alpukat dengan ekstra es batu di dalamnya. Ketika mereka sedang menikmati jus alpukat, datanglah kakak tingkat yang menghampiri mereka. Ternyata dia adalah Kak Airin kenalannya Audi. Kami pun berbincang-bincang dengannya. Ditengah perbincangan kita, tiba-tiba Kak Airin menunjukkan database yang dimana database itu merupakan data mahasiswa yang sedang magang.

Lalu Dariza dan Audi melihat siapa saja mahasiswa yang sedang magang. Dan mataku seolah sudah tahu apa yang ingin aku cari. Yaps nama Kak Azriel ada dalam databse itu. Namun disana tidak dituliskan jelas dimana tempat magangnya. Dairza terlalu malu untuk menanyakan itu kepada Kak Airin. Dan Audi melirikku sesaat seolah-olah dia bisa membaca pikiranku. Tanpa basa-basi Ia langsung menanyakan hal tersebut kepada Kak Airin.

“Emm dari semua data magang mahasiswa ini, Apa Kak Airin tau mereka nih magangnya dimana?” Tanya Audi dengan alibinya.

“Aku engga tau secara keseluruhan, aku cuma tahu beberapa aja.” Jawab Kak Airin datar.

“Emang yang Kak Airin tahu siapa dan dimana aja mereka magang?” Tanya Audi penasaran.

“Kalau Kak Rangga dia magang di Bogor, Kak Nisa di Yogyakarta, Kak Azriel di Bandung, terus siapa lagi ya? Nanti deh aku kirim datanya ke kamu ya Di.” Jawab Kak Airin.

Ketika namanya disebut, mata Dariza seketika berbinar-binar dan merasa menemukan titik terang.

“Engga usah repot-repot kak, gapapa. Aku cuma penasaran aja kok hihi.” Tolak Audi.

Sebenarnya sudah dari lama Dariza menyimpan nomor telepon Kak Azriel. Namun sampai hari ini, Dariza belum berani untuk menghubungi Kak Azriel tanpa alasan. Dari situlah Dariza berambisi untuk menjadi mahasiswi berprestasi seperti Kak Azriel agar bisa magang ditempat Kak Azriel magang.

Dariza berusaha semaksimal mungkin dan mengerahkan semua kemampuannya untuk menjadi mahasiswi berprestasi. Dia selalu fokus memperhatikan dosen ketika mengajar. Dan berusaha untuk aktif bertanya kepada dosen. Tiba akhirnya UAS. Dariza sangat percaya diri dan bersemangat menjalani masa UAS. Sampai pada akhirnya Dariza mendapatkan nilai yang kurang memuaskan menurutnya. Dariza sangat terpukul dan kecewa. Namun Ia sadar, jika kecewa atau berlarut-larut dalam kesedihan adalah hal yang sia-sia. Dariza pun berusaha bangkit dan kembali menghadapi dunia nyatanya.

Ketika Dariza sedang lelah dengan rutinitas kuliah dan hampir menyerah, Dariza selalu teringat sosok Kak Azriel. Dan timbulah semangat didalam dirinya untuk terus maju. Dariza tak lelah untuk mencari info tentang Kak Azriel.

<1 Tahun Kemudian...>

Hari ini pun tiba, dimana hari ini adalah hari wisudanya Kak Azriel. Dariza senang Kak Azriel lulus tepat waktu, namun Dia juga sedih karena tidak akan melihat Kak Azriel lagi di kampus. Tak ingin membuang kesempatan, Dariza pun memberanikan diri menghampiri Kak Azriel untuk memberikan ucapan selamat.

Kak Azriel pun mengucapkan terima kasih dan mendoakan yang terbaik untuk Dariza. Tidak lupa Kak Azriel menyambutnya dengan ramah serta senyum yang merekah. Ingin sekali rasanya Dariza memeluknya.

Beberapa minggu kemudian, ketua kelompok ospek Dariza dulu mengajak semua anggotanya untuk bersilaturahim di tempat yang sudah ditentukan. Semua sepakat untuk bertemu. Disana hadir pula Kak Azriel selaku pembimbing mereka saat itu. Sekarang Kak Azriel sudah menjadi Arsitek professional dan sedang melanjutkan pendidikannya ke jenjang S2. Mendengar kabar tersebut, Dariza sangat terkejut dan membuatnya patah semangat. Karena jika dibandingkan dengan pencapaian Kak Azriel saat ini, Dariza tidak ada apa-apanya.

Dariza jadi berpikir ulang, apakah boleh Ia mendambakan Kak Azriel untuk menjadi suaminya kelak? Apakah Dia layak dan sebanding dengan Kak Azriel? Ditengah pikirannya yang kalut itu, Dariza tersentak dengan pertanyaan Kak Azriel.

“Dariza apa kabar?” Tanya Kak Azriel dengan tatapan hangat.

“Alhamdulillah Dariza baik kak, Kak Azriel apa kabar?” Tanya Dariza.

“Alhamdulillah kabar Saya juga baik.” Jawab Kak Azriel

Ditengah perbincangan, ada salah satu teman yang bertanya kepada Kak Azriel.

“Kak Azriel, sekarang udah punya pasangan dong ya?” Tanya Ali penasaran

“Alhamdulillah sampai saat ini Saya masih mencari pasangana. Barangkali Ali punya teman wanita yang bisa dikenalkan kepada Saya haha.” Jawab Kak Azriel bercanda.

“Masa sih Kak Azriel belum punya pasangan? Kalau orang yang disuka ada dong pasti?” Tanya Ali lagi

“Ada deh pokoknya.” Jawab Kak Azriel tertawa kecil.

Deg. Entah itu benar atau tidak, tapi kenapa rasanya hati Dariza sangat tidak ingin mendengar hal itu. Apakah sudah tidak ada harapan lagi untuknya? Air matanya hampir jatuh mengenai tangannya. Sebelum hal itu terjadi, Dariza segera meminta izin kepada yang lain untuk pergi ke toilet. Karena suasana hatinya sekarang tidak karuan, setelah dari toilet Dariza pamit kepada semuanya untuk pulang duluan. Dengan cepat Kak Azriel menawarkan diri untuk mengantarnya pulang.

“Dariza, Rumah kamu dimana? Biar Saya antar kamu pulang.” Ajak Kak Azriel.

“Rumah Dariza di sekitaran sini kak. Terima kasih atas tawarannya, tapi Dariza sudah pesan ojol.” Tolak Dariza.

Dariza pun segera meninggalkan tempat tersebut. Dan lekas pulang. Sesampainya dirumah, dia langsung membereskan tas dan pakaian yang dikenakan. Dariza teringat jika Handphone-nya ada didalam tas. Ketika dia sudah mengambil Handphone, Dia melihat ada sepucuk surat berwarna hijau didalam tasnya.

Dia pun segera membuka surat tersebut dengan penasaran. Dan Dariza pun membaca surat dengan seksama.

 

Dear Dariza,

Sudah lama kita tidak bertemu. Saya sangat bersyukur kita bisa bertemu malam ini. Oh iya, selamat yaa kamu sudah menjadi salah satu mahasiswi yang berprestasi. Kamu hebat. Maaf Saya tidak bisa bicara langsung. Karena Saya merasa malu untuk melakukannya :).

Apakah kamu sudah memiliki pendamping? Jika belum, bolehkah Saya mengenalmu lebih dalam Dariza? Mungkin saat ini kamu bertanya-tanya siapa Saya? Jika waktunya sudah tepat, Saya akan menghubungimu segera Dariza.

Regards

 

Dariza bertanya-tanya siapa yang memasukan surat ini. Apakah Kak Azriel pria yang aku suka? Atau orang lain? Satu hal yang pasti, orang ini pasti ada di kelompok ospeknya dulu. Jika benar surat ini dari Kak Azriel, maka Dariza akan sangat bersyukur sekali. Tapi Apakah Dariza harus menunggu sosok misterius itu menghubunginya? Dariza hanya bisa berharap bahwa surat itu dari Kak Azriel and could he be my true love?

 

~ SELESAI ~

No comments:

Post a Comment

COULD HE BE MY TRUE LOVE?

  Could He Be My True Love?              Awan hitam diselimuti halilintar yang menggelegar menghiasi perjalanan pulang Dariza. Dariza meru...